Alkisah, Nasrudin pulang dari perjalanan ke negeri seberang. Sepulangnya dari sana, Nasrudin mengumpulkan anak-anak kecil disekitar rumahnya. Ceritanya, dia mau membagi-bagikan oleh-oleh dari perjalanannya yang terakhir. Setelah anak-anak kecil terkumpul, sambil memegang sekantong permen, Nasrudin bertanya; “aku punya oleh-oleh untuk kalian. Sekarang kutawarkan cara membaginya, kalian menginginkan cara membagi dengan keadilan manusia atau dengan keadilan Tuhan?”
Anak-anak kecil itu kebingungan, akhirnya mereka menjawab, “kami ingin keadilan Tuhan”
Kemudian Nasrudin langsung membagikan permen itu secara serampangan, ada anak yg mendapat 2 permen, ada yg 3 permen, jumlahnya berbeda-beda. Salah satu anak itu langsung memprotes, dia berkata, “kok pembagiannya tidak adil?”
Kemudian Nasrudin menjawab, “Itulah keadilan Tuhan”.
aku adalah salah satu dari anak-anak itu. yang tidak mengerti tentang keadilan Tuhan. menurutku, keadilan itu berarti sama banyak, sama besar, atau apapun yg masuk akal. padahal justru disitu mungkin letak adilnya Tuhan. aku berpikir, semua yg diraih akan sesuai dengan usaha yg dikeluarkan. aku selalu berpikir, si A seharusnya mendapat lebih dari si B. itu semua dilihat dari kacamata manusia (mungkin lebih tepatnya anak kecil). jarang (atau bisa dibilang tidak pernah) saya melihat bahwa itu adalah keadilan Tuhan. seperti anak kecil yg merengek meminta es atau permen, tanpa ia tahu bahwa es atau permen bisa membuatnya sakit. seiring waktu, aku tahu beberapa jenis es atau permen bisa membuat tenggorokan meradang atau mengikis gigi. tapi masih banyak yg tidak aku ketahui. aku masih saja merengek. mungkin itu salah satu tanda ketidak dewasaanku. seharusnya aku tahu, Tuhan maha adil. dan aku harus menerima keadilan Tuhan. karena kapasitasku memang hanya sebesar itu. keadilanku terbatas. pengetahuanku juga.
mengingatkanku pada satu sesi pembicaraan bodoh di pagi hari, setelah semalaman begadang, tentang pengandaian di masa lalu. seandainya dulu aku mengambil langkah berbeda, tentu beberapa hal akan berubah. yang secepat mungkin dijawab oleh sahabatku, bahwa perubahan yang terjadi belum tentu sama dengan yang kuinginkan. bisa jadi perubahan yang terjadi membuat keadaan semakin memburuk. seperti jutaan persimpangan yang tidak kuketahui ujungnya, atau apa yang akan kutemui di sana.
mungkin sebagai perumpamaan, bisa kurekomendasikan film “Butterfly Effect”.
yang kuingin belum tentu yg terbaik untukku, atau minimal, walaupun baik untukku, mungkin yang kuingin belum waktunya kudapat.
butuh pengorbanan lebih, perjuangan ekstra, keberanian berlapis, kekuatan berlipat, atau bahkan memang apapun yg kulakukan tidak akan bisa mengubahnya
*) Kisah Nasrudin diambil dari buku “Canda Sufi” punya jibo, ato punya 15 ya? ah, entahlah, yang pasti aku berterimakasih untuk kisah itu. untuk potensi belajar yang diberikannya…