Message 26:
Met valentine, luv u all…..
From : +628xxxxxxxxxx
15.35 14–Feb–2008
Reply:
Valentine?Penting banget ga seh?Yaweslah,
met valentine jg….
Message 27:
Ngapain nany pntg ato gak… D point is, just
want 2 say, luv u all. Ga tiap hr
kan
bisa ngmng gt
From : +628xxxxxxxxxx
15.43 14–Feb–2008
Reply:
Soale,ad yg lbh ptg.D’fact dat I luv u
all.So,valentine or not, stil gonna luv u hun…
Message 28:
Tp ga tiap hari aq dgr kmu blg luv u.. Of
course d fact is, we love each other. Deep inside.. everyday I luv u
15.49 14–Feb–2008
Reply:
U got it rigt…….
Itu menutup perdebatan ga penting tentang penting ga
pentingnya valentine. Dari dulu emg ga pernah ngrayain sih. Mungkin faktor ga
punya pasangan berpengaruh bgt. Diluar itu, aku emg termasuk yang ga peduli ama
ritual valentine. Terlepas dari sejarah, ritual orang2, ataupun pemaknaan
orang2 ttg valentine, aku hanya berpikir bahwa itu hanyalah momen bagus yang
digunakan untuk menarik sisi konsumtif manusia di seluruh dunia. Bahkan dulu
aku pernah mengamini seorang teman yang berkata; “sekali setaon toko boneka n
toko coklat penuh semua. Trus kemana mereka 364 hari (ato 365 pada taon
kabisat) yang laen?Cuman bisa ngungkapin sayang setaon sekali?”
Tapi kemaren aku dipertemukan dengan
perspektif yang sama sekali laen.
Emg bener sih, ga tiap hari kita ngungkapin
cinta kita ke orang laen. Dan tidak tiap hari juga kita mendengar orang laen mengungkapkan cintanya
kepada kita. Diluar kenyataan bahwa cinta itu ada, diungkapkan ataupun tidak,
tapi mungkin memang menyenangkan untuk mendengar orang yang mencintai kita
mengungkapkan perasaannya.
Dan di akhir perdebatan, aku mengakui bahwa
dia benar. Aku mengakui bahwa memang jarang sekali bisa mendengar kata-kata
cinta itu. Dan bahwa walopun mungkin cuma setaon sekali, tapi penting banget
buat dia (dan kita semua) untuk mendengarkan kata-kata itu.
Jadi, walaupun aku berpikir bahwa ga
penting setaon sekali merayakan valentine, kalo bisa dirayain sepanjang taon,
tapi kenyataannya ga berubah. Kita yang hidup dan dibesarkan dengan adat timur,
mungkin tidak terbiasa mengungkapkan cinta. Walaupun aku punya bbrp teman yang
bisa dengan santai mengucapkan: luv u mum, luv u dad. Tapi jumlahnya tidak
banyak. Lebih banyak yang tidak terbiasa mengungkapkannya.
Membuatku teringat pada salah satu buku
(ato kumpulan cerpen ya?lupa..) yang pernah aku baca. Di situ dikatakan, “Bila
ada adegan berciuman di film ato tv, langsung banyak yang memprotes. Tapi bila
ada tayangan perkelahian, perampokan, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, tidak
banyak yang peduli. Di tv setiap hari bisa kita saksikan dengan mudah, mulai
siang hari sampai malam. Tidak heran bangsa kita tidak lagi bangsa yang ramah
tamah tetapi sudah berubah menjadi bangsa yang jahat dan suka kekerasan.
Anak-anak kita tidak lagi diajari bagaimana mencintai, tapi mereka lebih banyak
dicekoki kekerasan. Mereka lupa cara mengungkapkan cinta, tapi terampil
menyatakan benci.”
Ps:cinta yang berkali-kali saya sebut di
atas tidak hanya terbatas pada cinta antara pasangan. Tapi lebih universal.
Antar teman dan sahabat, orang tua, keluarga, dan semua orang. Buat semua orang
yang membaca ini, I luv u all!!!